Membaca Buku dalam Penerbangan










Jika
menggunakan transportasi darat, saya sulit untuk mengisi waktu dengan membaca,
gerak kendaraan membuat mata sulit fokus pada bacaan dan kadang membuat pusing apa lagi jika jalannya
berkelok-kelok. Tidak demikian bila saya menggunakan jasa angkutan laut atau udara, kita
bisa menemukan momen membaca yang mengasyikan. Membaca dalam pelayaran memberi
kita waktu yang banyak, karena dapat menghabiskan waktu berhari-hari menempuh
pulau demi pulau dengan suasana di tengah lautan luas. Sedangkan dalam
penerbangan, membaca hanya untuk sekedar menghabiskan waktu beberapa jam saja.






Dengan menggunakan jasa penerbangan low-cost
carrier
kita
biasanya disediakan koran terbitan ibukota atau majalah periodik maskapai untuk mengisi waktu di atas pesawat, selain itu kalau
duduk di samping lorong pesawat, yah dapat menghabiskan waktu dengan melihat
lenggak-lenggok pramugari dan orang-orang yang pergi pulang toilet pesawat, atau
bila kebetulan duduk di samping jendela, maka kita bisa menghabiskan waktu melihat kumpulan awan, daratan, lautan, barisan pegunungan, barisan pulau-pulau kecil
atau juga melihat beberapa panorama kota dari atas. Kalau jenuh dengan hal-hal diatas kita bisa memainkan gadget pribadi
dengan beragam media yang menghibur. Begitupun kita juga bisa menghabiskan waktu ngobrol bersama
teman atau penumpang lain yang sepadan dalam bercerita. Jika
menggunakan jasa penerbangan sejenis Garuda, maka kita masih bisa dihibur lagi dengan layar touch screen di depan kursi penumpang, bisa meononton
filem, dokumenter,
musik video, membaca majalah digital, mendengarkan musik atau lainnya. Terakhir masih ada pilihan lain yaitu memejamkan mata dan tidur!.




Nah bagaimana jika hal-hal itu membosankan, apalagi untuk menghabiskan
waktu yang lama dalam penerbangan. Untuk menjawab itu, biasanya saya membawa sebuah
buku untuk dibaca selama penerbangan. Dalam salah satu penerbangan Kupang –
Jakarta yang memakan waktu normal 3½ jam, belum termasuk waktu transit, saya
menghabiskan waktu membaca buku “Indonesia Jungkir Balik” hingga selesai. 




Buku
terbitan Noura Books (anak perusahaan Mizan) yang baru dirilis Desember 2012
lalu, seolah
mengikuti tren model
buku yang bolak balik (dua bagian dalam satu buku), mungkin agar sesuai dengan namanya. Jika
kita membaca di depan orang, mereka melihat salah satu sisi sampul buku akan mengira kalau kita
sedang ‘gila’ karena membaca buku secara terbalik, buku terbagi dalam dua
bagian yang masing-masing bagian berakhir di tengah halaman buku. Kalau tidak
salah buku ini sempat akan diberi judul “Indonesia Menghajar”, sedikit mengikuti judul
buku populer lainnya
yaitu “Indonesia Mengajar”, bukan bermaksud sebagai buku sempalan dari
Indonesia Mengajar tetapi mencoba memperlihatkan sisi lain dari ke-Indonesia
kita. Mungkin dengan pertimbangan lainnya, akhirnya buku ini diberi
judul “Indonesia Jungkir Balik”. Buku yang merupakan kumpulan tulisan esai ini, ditulis oleh
beberapa penulis yang telah dipilih dan diseleksi oleh editor penerbit, salah satunya adalah senior saya di kampus yang baru saja menyelesaikan pendidikan lanjutannya di Ohio
University
.




Isi besar dari buku ini bertema “mempertanyakan ke-indonesiaan kita”,
mengikuti catatan dalam pengantar buku ini, bahwa kita secara
sosiologis-antropologis adalah manusia Indonesia yang
tumbuh di berbagai daerah di nusantara dari
desa hingga kota, dari pedalamanan hingga pesisir daerah,
dengan memegang atribut
identitas yang
menempel dan mengikuti hidup kita.
Namun secara kultural-intelektual, kita
menjadi besar di banyak tempat: rumah, sekolah, pesantren, kampus, ruang
publik, kantor, masjid, pasar, jalan raya, sawah, laut, dan udara. Semua tempat
itulah yang kini membuat kita
meng-Indonesia. Buku yang sangat menarik!
(*)
















Kupang, 15 Mei 2013

©daonlontar.blogspot.com




Komentar